Beranda > Ilmiah Fiqhiyah > PANDUAN MENJAMA’ SHOLAT BAGI IMAM SHOLAT

PANDUAN MENJAMA’ SHOLAT BAGI IMAM SHOLAT

PANDUAN MENJAMA’ SHOLAT

BAGI IMAM SHOLAT

I. PENGERTIAN
Menjama’ dua sholat adalah menggabungkan antara sholat dzuhur dengan ashar dan atau magrib dengan isya’ pada salah satu waktu diantara keduanya ketika dalam bersafar atau dalam kondisi hujan. (Al fiqh Al Islami Wa adillatuhu : 2/350)

II. MASYRU’IYAH SHOLAT JAMA’
Dalam sebuah haditas riwayat Ibnu Umar dikatakan : “Rosululloh jika memulai perjalanan maka ia mejama’ antara sholat magrib dengan isya’” (HR. Bukhari no. 1106 dan Muslim 1622)
Dari Anas bin Malik meriwayatkan :
“Sesungguhnya Nabi menggabungkan antara sholat dzuhur dan ashar jika setelah dzuhur ia mengadakan perjalanan.” (Bukhari : 1107 dan Muslim)
a. Dalil jama’ takdim
Dalam sebuah hadits shohih yang diriwayatkan dari Muad dikatakan : “Sesungguhnya Nabi ketika perang tabuk berangkat setelah magrib maka ia mendahulukan sholat isya’ bersama-sama dengan sholat magrib.” (HR Ahmad, Abu Daud, Daruqutni, Baihaqi dan Tirmidzi menghasankan serta Ibnu Hibban menshohihkanya).
Menurut Imam Malik seseorang tidak boleh menjama’ sholat kecuali jika ia akan memulai suatu perjalanan, Ibnu Hubairoh dalam kitab “Al-ifshoh” dari Imam Malik yang mengisahkan bahwa Imam Ahmad dan Imam Syafi’i berpendapat seperti ini juga. (Saalsabil fi ma’rifatiddalil, Al Bulaihi : 1/ 295)
Imam Muslim dalam riwayat yang panjang dari Jabir mengisahkan : “Kemudian adzan kemudian iqomat lalu mengadakan sholat dzuhur, kemudiaan iqomat lagi lalu mengadakan sholat ashar, dan keduanya tidak akan dilaksanakan kecuali setelah zawal (matahari agak condong kearah barat)”
Para Ahli Fiqih mengambil hadits ini sebagai dalil dibolehkannya jama’ takdim dan jama’ takhir dalam keadaan bersafar (perjalanan).
Anas bin Malik dengan sanad shohih meriwayatkan : “Rosululloh apabila akan mengadakan perjalanan sedang matahari telah condong maka ia sholat dzuhur dan ashar dahulu secara bersamaan. (HR Bukhori dan Muslim).
Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang menjama’ sholat, Bagaimana cara Rosululloh melakukan sholat dengan jama’ ?
Beliau menjawab : Sesungguhnya Rosululloh menjama’ sholat pada sebagian waktunya yaitu : ketika ia akan memulai perjalanan dan ketika mendapatkan udzur syar’I, sebagaimana beliau manjama’ pada waktu di Arofah dan Muzdalifah dan ketika dalam perang tabuk, apabila Rosululloh bepergian sebelum zawal (matahari condong ke barat) maka beliau mengakhirkan sholat dzuhur sampai datang waktu sholat ashar dalam keadaan dijama’, dan apabila beliau bepergian setelah zawal maka beliau sholat dzuhur dan ashar terlebih dahulu dengan jama’ keduanya sebagaimana yang telah beliau lakukaan pada waktu di Arofah. (Majmu’ fatawa, Ibnu Taimiyah : 24 / 28).
b. Dalil jama’ takhir
Diantara petunjuk Rosululloh adalah jika ia pergi setelah matahari condong ke arah barat, maka beliau mengakhirkan sholat dzuhur sampai datang waktu sholat ashar kemudian turun dari kendaraannya dan sholat dengan keadaan dijama’ takhir, sedang bila beliau belum berangkat dalam perjalanan dan matahari telah bergaser kearah barat, maka beliau sholat dzuhur dahulu baru kemudian berangkat pergi melanjutkan perjalanannya. (Zadul ma’ad fi hadyi hoiril ‘ibad, Ibnu Qoyyim : 1 / 459)
Diriwayatkan dari Anas bin Malik dari nabi : “Sesungguhnya Nabi pada suatu hari tergesa-gesa dalam melakukan perjalanan, maka beliau mengakhirkan sholat dzuhur sampai awal waktu ashar, kemudian beliau menjama’ keduannya dan beliau juga mengakhirkan sholat magrib sampai datang waktu sholat isya’ dengan menjama’ kedua sholat itu ketika sinar merah dari matahari itu telah sirna (dari pandangan mata) ” (HR muslim).

III. SHOLAT-SHOLAT YANG BOLEH DIJAMA’


Dalam kitab Alfiqh Al Islami disebutkan bahwa sholat-sholat yang diperbolehkan untuk menjama’ adalah sholat magrib dengan isya’, dan dzuhur dengan ashar.
Dan tidak diperbolehkan untuk menjama’ sholat subuh dengan yang lainya atau magrib dengan ashar menurut ijma’.
IV. SYARAT- SYARAT BOLEH JAMA’ SHOLAT
Orang–orang yang memperbolehkan menjama’ sholat baik secara takdim maupun takhir yaitu dengan tiga ketentuan :
a. Ketika menjadi seoang musafir.
b. Ketika turun hujan atau karena salju dan musim dingin.
c. Ketika berada di Arofah dan Muzdalifah.
Para Ahli Fiqih berselisih pendapat terhadap syarat shohih jama’ sholat selain dari tiga diatas.
Malikiyah berkata : Sebab-sebab dibolehkan menjama’ antara sholat dzuhur dengan ashar dan magrib dengan isya’ secara takdim maupun takhir ada enam :
a. Safar
b. Hujan
c. Becek berbarengan dengan gelap gulita.
d. Sakit seperti pingsan dan sejeninsnya
e. Di Arofah
f. Di Muzdalifah
Semua sebab atau syarat yang tersebut diatas merupakan ruhshoh yang diperbolehkan menjama’ sholat bagi orang mukmin laki-laki ataupun perempuan, kecuali menjama’ sholat ketika berada di Arofah dan Muzdalifah karena ia merupakan sunnah Rosululloh. (Al fiqh Al Islami Wa adillatuhu, Wahbah Azzuhaili : 2 / 351).
Dalam kitab “Salsabil fi ma’rifatiddalil” dijelaskan : Diperbolehkanya menjama’ sholat itu karena delapan keadaan :
a. Karena sakit, ia meninggalkanya karena masyaqoh (memberatkan) baginya
b. Karena Musafir dan ia juga diperbolehkan menqoshor sholat
c. Orang yang menyusui, ia merupakan masyaqoh karena si ibu akan banyak terkena najis.
d. Orang yang sangat tua yang kesulitan thoharoh untuk setiap kali mau mendirikan sholat.
e. Orang tua yang tidak mengetahui waktu, seperti orang buta.
f. Wanita yang sedang mengalami mustahadloh dan semisalnya.
g. Dan orang yang mempunyai kesibukan atau udzur yang memperbolehkan baginya untuk meninggalkan sholat jumat dan jamaah. (Salsabil fi ma’rifatiddalil, Al Bulaihi : 1/298).
Sedang menurut Syafi’iyah : diperbolehkan menjama’ sholat karena empat sebab:
a. Karena safar.
b. Karena hujan.
c. Karena menunaikan ibadah haji di Arofah.
d. Karena menunaikan ibadah Haji di Muzdalifah.
Sedangkan menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab Imam Syafi’I ialah tidak boleh menjama’ sholat sebab becek, angin ribut, gelap gulita, sakit, berdasarkan hadits tentang tepatnya waktu sholat, dan tidak boleh menyelisihinya kecuali dengan nash yang shorih. karena Nabi dalam keadaan sakit parahpun tidak menjama’ sholat disebabkan sakitnya itu.” Dan karena orang yang dalam keadaan lemah, sedang rumahnya sangat jauh dari masjid, beliau tetap tidak diperbolehkan menjama’ meskipun itu merupakan masyaqoh dhohir, begitu pula karena sakit. (Al fiqh Al Islami Wa Adillatuhu, Wahbah Azzuhaili : 2 / 354 – 355).

Jama’ mathar
Diperbolehkan mengumpulkan dua shalat [taqdim] pada waktu hujan Dalil H.R Al Bukhari No: 518 dan Muslim No: 705.
Syarat-syaratnya:
• Hendaknya shalat jamaah di masjid yang jauh. Seorang muslim terhalang hujan untuk menuju ke masjid tersebut.
• Hujan berlangsung pada shalat yang pertama, ketika salam.

V. MASAFAH DIPERBOLEHKAN MENJAMA’ SHOLAT
Jarak yang diperbolehkan menjama’ sholat itu sebagaimana mengqosor dalam sholat yaitu dengan jarak tempuh 89 Km. (Al fiqh Al Islami Wa Adillauhu, Wahbah Azzuhaili : 2 / 354- 355).
VI. ADZAN DAN IQOMAH DALAM MENJAMA’ SHOLAT
Dalam kitab “Shohih Bukhori” dipaparkan bahwa adzan dalam sholat jama’ hanya satu kali sedang iqomahnya dua kali sebagaimana diterangkan dalam hadits Abdulloh bin Umar : Saya melihat Rosulloh apabila buru-buru dalam mengadakan perjalanan maka ia mengakhirkan sholat maghrib sampai isya’ dan menjama’ di waktu isya’, Salim berkata : Abdulloh juga berbuat seperti itu manakala dia buru-buru dalam perjalanan, maka ia mengumandangkan adzan untuk sholat magrib dengan tiga rekaat lalu salam, setelah selang beberapa waktu lalu dikumandangkanlah iqomah untuk sholat isya’ sebanyak dua rekaat kemudian salam dan beliau tidak bertasbih barang sesaat diantara dua sholat dan tidak pula setelah sholat isya’ meskipun hanya satu sujud lamanya, begitulah yang saya ketahui sampai sepertiga malam (ketika aku besamanya). (Shohih bukhori : 1109, hal 218)

DAFTAR REFERENSI
1. Majmu’ fatawa, Ibnu taimiyah
2. Zadul ma’ad, Ibnu qoyyim
3. Kitab fiqih madzahibul arbaah,
4. Fiqih Islami, Wahbah Az Zuhaili
5. Shohih Bukhari
6. Shohih Muslim
7. Syarh ashshunnah
8. Salsabil fi Ma’rifatiddalil
9. Nailul author
10. Asy syarh Alkabir

MENJAMAK SHALAT JUMAT DENGAN ASHAR JIKA HUJAN TURUN DENGAN LEBAT
Pertanyaan: Alhamdulillâh, hari-hari ini Allah mengkaruniai kita hujan, kami berdoa semoga inilah hujan yang membawa barokah dan memberi manfaat pada seluruh pelosok negeri kaum musimin.
Kepada yang mulia syeikh ‘Abdul ‘Azîz bin ‘Abdullâh bin Bâz: Sempat terjadi perdebatan di antara sebagian ikhwan seputar bolehnya menjamak shalat jumat dan ashar jika terjadi hujan lebat sehingga mengakibatkan munculnya masyaqqah. Kami mohon fatwa anda!
Jawab: Tidak boleh menjamak antara shalat ashar dengan shalat jumat dengan udzur apapun, karena tentang kebolehan hal tersebut tidak pernah dinukil dari Nabi maupun para sahabatnya. Karena jumat juga tidak bisa diqiyaskan dengan zhuhur, karena shalat jumat adalah ibadah tersendiri, dan ibadah bersifat taukifi (mencontoh yang ada) serta tidak boleh membuat cara-cara baru dengan hanya berdasarkan rasio.
Semoga Allah melimpahkan taufiknya kepada kita semua untuk memahami perkara dien serta menetapkan kita di atasnya.

HUKUM MENJAMAK SHALAT MAGHRIB DAN ISYA’ KETIKA TURUN HUJAN DI DAERAH PERKOTAAN.
Pertanyaan: Apa pendapat syeikh tentang menjamak shalat maghrib dan isya’ karena turunnya hujan di daerah perkotaan pada zaman sekarang? Padahal jalan-jalan telah diaspal dan begitu bagus, sehingga tidak ada lagi masyaqqah maupun tanah lumpur.
Jawab: Hukumnya boleh menjamak shalat maghrib dan isya’ maupun zhuhur dan ashar disebabkan turunnya hujan yang dapat menyulitkan keluar untuk pergi ke masjid. Demikian halnya jika terjadi banjir, karena dalam kondisi yang seperti ini terdapat kesulitan. Ini menurut pendapat yang paling benar.
Dasar hukumnya adalah hadits dalam Ash-Shahîhain dari Ibnu Abbas n, bahwasanya Nabi pernah menjamak shalat zhuhur dan ashar dan antara shalat maghrib dan isya.
Imam Muslim menambahkan dalam riwayatnya,
“من غير خوف ولا مطر ولا سفر”
Artinya: “Tanpa sebab takut, tidak pula hujan maupun safar”.
Ini menunjukkan bahwa ketika Rasulullah saat itu sedang tinggal di tengah-tengah para sahabat Radhiyallahu anhum rasa takut dan hujan merupakan udzur bolehnya menjamak shalat sebagaimana safar. Hanya saja dalam kondisi seperti ini dia tidak boleh mengqashar, yang diperbolehkan hanyalah menjamak saja, karenakan dia adalah orang mukim dan bukan musafir, sedangkan qashar adalah rukhsoh khusus bagi musafir saja.
Wallâhu waliyyut taufîk.

BATASAN MENJAMAK DUA SHALAT SAAT TURUNNYA HUJAN
Pertanyaan: Apa batasan bolehnya menjamak antara dua shalat karena turunnya hujan?
Jawab: Apabila ada udzur, kita boleh menjamak antara dua shalat; zhuhur dengan ashar, maghrib dengan isya’. Baik udzur itu berupa sakit, safar dan hujan lebat. Ini menurut pendapat yang rajih.
Sebagian ulama ada yang tidak membolehkan menjamak antara shalat zhuhur dan asar di perkotaan karenakan hujan atau semisalnya ~seperti becek~, yang semua itu menimbulkan masyaqqah.
Yang benar adalah bahwa hal tersebut hukumnya boleh seperti menjamak antara maghrib dan isya’ apabila ada hujan yang bisa mendatangkan masyaqqah. Demikian halnya shalat zhuhur dan ashar, baik dia menjamak di awal waktu atau di tengah waktu, pokoknya kalau ada hal yang mendatangkan kesulitan, baik di masjid atau di pasar atau yang dapat menghalangi jalan mereka karena genangan air atau lumpur, maka mereka boleh menjamak. Kalaulah mereka tidak menjamak, mereka boleh shalat di rumah mereka masing-masing.

TIDAK BOLEH MENJAMAK DUA SHALAT TANPA ADANYA UDZUR SYAR’I
Pertanyaan: Beberapa hari yang lalu sebagian imam masjid kami menjamak shalat maghrib dan isya’ setelah turunnya hujan yang tidak begitu lebat dan tidak mendatangkan masyaqqah, apakah shalat kami sudah benar ataukah kami harus mengulang shalat kami?
Jawab: Jika tidak ada udzur syar’i, maka tidak boleh menjamak antara dua shalat, seperti sakit, safar dan hujan yang dapat membasahi pakaian ataupun mendatangkan masyaqqah seperti adanya lumpur.
Adapun orang yang menjamak antara shalat zhuhur dan ashar, maghrib dan isya’ tanpa adanya sebuah udzur, maka hal ini tidak boleh dilakukan. Kemudian hukumnya dia wajib mengulangi shalatnya, karena Nabi bersabda’
“من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد”
Artinya: “Barangsiapa yang beramal yang tidak ada perintahnya dari kami, maka dia tertolak.” (HR. Muslim dalam Shahih nya) Asal hadistnya terdapat di dalam Ah-Shahihain dari hadist Aisyah s, dari Nabi n bahwa beliau bersabda,
“من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد”
Artinya: ”Barangsiapa yang mengada-ada dalam perkara kami ini yang bukan termasuk darinya, maka ia tertolak.” (HR Bukhâri-Muslim﴿
Dengan demikian kewajiban seorang muslim adalah mengikuti apa yang telah digariskan oleh syariat dalam segala ibadahnya, serta berusaha menjauhi segala bentuk penyimpangan.
Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada segenap kaum muslimin untuk memahami dien ini.

APAKAH NIAT MERUPAKAN SYARAT BOLEHNYA MENJAMAK SHALAT ?
Pertanyaan: Apakah niat merupakan syarat bolehnya menjamak shalat? Karena sering terjadi ketika shalat maghrib kita tidak berniat untuk menjamak shalat, kemudian setelah shalat para jamaah bermusyawarah untuk menjamak shalat, dan akhirnya dilaksanakanlah shalat isya’ dengan jamak?
Jawab: Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Tapi pendapat paling rajih adalah yang menyatakan bahwa niat tidak termasuk syarat jamak ketika shalat yang pertama, bahkan boleh menjamak shalat setelah shalat pertama selesai, jika ada udzur syar’i seperti sakit, takut atau hujan.

APAKAH MUWÂLÂH ANTARA DUA SHALAT MERUPAKAN SYARAT MENJAMAK SHALAT?
Pertanyaan: Kadang kita mengakhirkan pelaksanaan shalat kedua sehingga bisa dikatakan ada pemisah antara dua shalat baru kemudian menjamak, apakah hal ini boleh?

Jawab:
Dalam jamak takdim, yang wajib adalah muwâlâh antara dua shalat. Jika ada sedikit waktu yang menjadi pemisah itu tidak jadi masalah, karena Nabi bersabda:
صلوا كما رأيتموني أصلي
Artinya: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
Pendapat yang benar adalah bahwa niat tidak termasuk syarat, sebagaimana yang telah kami jelaskan.
Sedangkan jamak ta’khir lebih luas dari pada jamak takdim karena shalat yang kedua dilaksanakan pada waktunya. Tapi yang afdhal hendaknya muwâlât dalam shalatnya demi mengikuti Nabi.
Wallâhu Waliyut taufîk.

Kategori:Ilmiah Fiqhiyah
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: